Akurasi dengan Hati
Setiap esai melalui proses riset lapangan, wawancara dengan tukang atau penghulu adat, dan verifikasi referensi pustaka. Tapi kami tidak pernah menulis sekadar untuk membuktikan, melainkan untuk merayakan.
Setiap kali sebuah rumah panggung tua dirobohkan untuk diganti dinding bata, kita tidak hanya kehilangan bangunan — kita kehilangan satu cara pandang. Kita kehilangan cerita tentang bagaimana leluhur kita membaca angin, menyiasati hujan, dan memuliakan tamu yang datang. Badak Heuay lahir dari keinginan sederhana untuk tidak melupakan semua itu.
Nama "Badak Heuay" sendiri diambil dari salah satu rumah adat Sunda paling khas — imah badak heuay, rumah dengan atap yang konon menyerupai badak yang sedang menguap. Ia kami pilih bukan karena yang paling megah, melainkan karena sebagai sebuah nama, ia mengingatkan kita pada hal yang penting: bahwa para tukang dahulu menamai rumah dengan kelembutan, dengan kehumoran, dengan rasa hormat pada makhluk hidup.
Sejak diluncurkan, kami telah menerbitkan lebih dari 40 esai, mengunjungi 14 desa adat di Jawa Barat dan Banten, serta merancang program kolaborasi dengan komunitas-komunitas pelestari di Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Naga, dan Kanekes. Semua artikel dapat diakses gratis — karena kami percaya pengetahuan tentang akar tidak boleh dipagari.
Prinsip kerja redaksi Badak Heuay
Setiap esai melalui proses riset lapangan, wawancara dengan tukang atau penghulu adat, dan verifikasi referensi pustaka. Tapi kami tidak pernah menulis sekadar untuk membuktikan, melainkan untuk merayakan.
Kami tidak datang ke desa adat untuk "mengeksotiskan". Setiap kolaborasi disertai persetujuan komunitas, dan sebagian pendapatan merchandise kami kembalikan untuk program pelestarian rumah tua.
Tidak ada paywall, tidak ada iklan invasif. Pengetahuan tentang akar budaya kita semestinya menjadi milik bersama — bisa dibaca anak SMP maupun peneliti tamu dari luar negeri.
Tiga manusia, satu cangkir kopi, banyak rumah tua untuk dikunjungi
Arsitek lulusan ITB yang menghabiskan dekade terakhir mendokumentasikan rumah panggung di Pakidulan. Menulis dengan keyakinan bahwa setiap atap adalah doa.
Antropolog yang lebih sering tersesat di lorong kampung daripada di rak perpustakaan. Kontributor untuk seri esai "Perempuan dan Dapur Tradisional".
Tukang generasi keempat dari Kampung Naga. Ia bukan menulis untuk kami — kami yang belajar menulis lebih tepat setiap kali mendengar ia bercerita.